Nikmatnya Hidup Di Bawah Naungan Al-Qur'an
إن الحمد لله وحده, نحمده و نستعينه و
نستغفره ونتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فهو
المهتد ومن يضلله فلن تجد له وليا مرشدا, أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له
وأشهد أن محمدا عبده ورسوله بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وتركنا على
المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها الا هلك, اللهم صل وسلم على نبينا محمد
وعلى آله وصحبه ومن دعا بدعوته الى يوم الدين. أما بعد, فيا عباد الله اوصيكم
ونفسي الخاطئة المذنبة بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون. وقال الله تعالى في محكم
التنزيل بعد أعوذ بالله من الشيطان الرجيم :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (ال عمران : 102)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (ال عمران : 102)
Kaum muslimin rahimakumullah…
Pertama-tama, marilah kita
tingkatkan kualitas taqwa kita pada Allah dengan berupaya maksimal melaksanakan
apa saja perintah-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul saw.
Pada waktu yang sama kita dituntut pula untuk meninggalkan apa saja larangan
Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul Saw. Hanya dengan
cara itulah ketaqwaan kita mengalami peningkatan dan perbaikan….
Selanjutnya, shalawat dan salam mari
kita bacakan untuk nabi Muhammad Saw sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an
:
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya
bershalawat atas Nabi (Muhammad Saw). Wahai orang-orang beriman, ucapkan
shalawat dan salam atas Nabi (Muhammad) Saw. ( Al-Ahzab : 56)
Kaum Muslimin rahimakumullah…
Hidup di bawah naungan Al-Qur’an
adalah kenikmatan yang tidak bisa diketahui kecuali oleh orang yang
merasakannya. Kenikmatan hidup di bawah naungan Al-Qur’an itulah yang
menyebabkan para Sahabat, Tabiin, Tabiittabiin dan generasi Islam sepanjang
masa mampu menikmati hidup di dunia yang sementara ini dengan sangat produktif
dan penuh amal shaleh.
Bahkan, berbagai ujian dan cobaan
yang menimpa mereka disebabkan hidup di bawah naungan Al-Qur’an dan memperjuangkannya
mereka rasakan sebagai minhah (anugerah) yang dirasakan manisnya, bukan sebagai
mihnah (kesulitan) yang menyebabkan mereka berpaling dan menjauh dari
Al-Qur’an. Mereka benar-benar sebagai generasi Qur’ani yang hidup dan mati
mereka bersama Al-Qur’an dan untuk Al-Qur’an.
Terdapat perbedaan yang jauh antara
generasi Qur’ani dengan generasi yang belum dibentuk karakternya, pemikirannya
dan prilakunya oleh Al-Qur’an. Generasi Qur’ani adalah generasi terbaik
sepanjang zaman. Generasi yang mampu mengintegrasikan antara ucapan, keyakinan
dan perbuatan. Hidup dan matinya untuk Islam dan umat Islam. Setiap langkah
hidupnya didasari Al-Qur’an.
Apa yang diperintah Al-Qur’an mereka
kerjakan dan apa saja yang dilarang Al-Qur’an mereka tinggalkan. Sebab itu mereka
connected (tersambung) selalu dengan Allah Ta’ala dalam semua ucapan, langkah
dan perbuatan. Sedangkan generasi yang bukan atau belum dibentuk Al-Qur’an
adalah generasi yang kontradiktif dan paradoks.
Karakter, pemikiran dan prilakunya
bertentangan dengan Al-Qur’an, kendati mereka hafal Al-Qur’an, memahami
kandungan Al-Qur’an, fasih berbahasa Al-Qur’an dan bahkan mungkin juga
membagi-bagikan Al-Qur’an kepada masyarakat dengan gratis.
Oleh sebab itu, tidak heran jika
situasi dan kondisi yang dialami oleh generasi Qur’ani sangat jauh berbeda
dengan sitauasi dan kondisi yang dialami oleh generasi yang bukan terbentuk
berdasarkan Al-Qur’an. Generasi Qur’ani adalah generasi yang cemerlang.
Generasi yang semua potensi hidup yang Allah berikan pada mereka dicurahkan
untuk meraih kesuksesan di Akhirat, yakni syurga Allah. Dunia dengan segala
pernak pernikya, di mata mereka, tak lain adalah sarana kehidupan yang hanya
dicicipi sekedar kebutuhan.
Orientasi utama hidup mereka adalah
kehidupan akhirat yang kekal abadi dan tidak bisa dibandingkan sedikitpun
dengan dunia dan seisinya. Allah menjelaskan :
قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِنْ
ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ
وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
Katakanlah (wahai Muhammad Saw)!
Maukah kamu aku khabarkan dengan yang jauh lebih baik dari itu semua (harta,
wanita, anak, istri dan seterusnya)? Bagi mereka yang bertaqwa, akan
mendapatkan di sisi Tuhan Penciptanya Syurga yang mengalir dari bawahnya
berbagai macam sungai. Mereka kekal di dalamnya dan ada istri-istri yang suci
(tidak haid dan tidak berkeringat) dan juga keridhoan dari Allah (jauh lebih
besar bagi mereka) dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran : 15)
Lain halnya dengan generasi yang
karakter, pemikiran dan perilakunya tidak dibentuk oleh Al-Qur’an. Mereka akan
mencurahkan semua potensi diri yang Allah berikan kepada mereka untuk
kepentingan hidup di dunia yang sementara ini. Sebab itu, pola fikir dan gaya
hidup mereka hanya terfokus pada kehidupan dunia, kalaupun ada untuk akhirat,
itupun hanya waktu sisa, harta sisa dan sisa-sisa ilmu dan tenaga.
Tak diragukan lagi, hidup mereka
bagaikan hewan dan bahkan lebih rendah dan lebih sesat lagi. Orang-orang
seperti ini, di akhirat kelak akan hina dan akan menjadi penghuni neraka,
kendati di dunia secara formal sebagai Muslim, hidup di komunitas Muslim dan
sebagainya. Allah menjelaskan :
لَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ
كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا
وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آَذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا
أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (179)
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk
(isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati,
tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka
mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda
kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya
untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan
mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A’raf :
179)
Kaumuslimin rahimakumullah…
Agar kita dan generasi kita tidak
seperti yang digambarkan dan diprediksi ayat di atas, kita dan generasi kita
haruslah hidup di dunia ini di bawah naungan Al-Qur’an. Al-Qur’an itu telah
memuliakan orang-orang yang tadinya hina seperti yang terjadi pada generasi
Sahabat dan seterusnya. Al-Qur’an itu telah meninggikan derajat orang-orang
yang tadinya budak dan hamba sahaya seperti yang dialami oleh Bilal Bin Rabah
dan sebagainya.
Al-Qur’an itu telah memerdekakan
orang-orang yang tadinya terjajah oleh penguasa zhalim dan para pengusaha
curang seperti yang dialami oleh kaum Muslimin Makah dan sebagainya. Al-Qur’an
itu telah berhasil membawa manusia yang tadinya hidup tersesat kepada jalan
hidup yang lurus, yang penuh berkah seperti yang dialami oleh kalangan
Muhajirin, Anshor dan generasi berikutnya.
Al-Qur’an itu telah berhasil
memberikan pencerahan kepada manusia terkait dahsyatnya kehidupan akhirat, di
mana sebelum mereka berinteraksi dengan Al-Qur’an mereka hanya mengetahui
kehidupan dunia. Bahkan Al-Qur’an itu telah pula berhasil menjelaskan hakikat
Tuhan Pencipta, hakikat alam semesta, hakikat manusia, hakikat kehidupan dunia
dan kehidupan akhirat.
Agar kita dan generasi kita dapat
hidup di bawah naungan Al-Qur’an dan merasakan langsung kedahsyatannya, yang
harus dilakukan tidak lain kecuali kita dan generasi kita harus mampu
BERINTERAKSI DENGAN AL-QUR’AN ( التعامل مع القرآن). Agar interaksi dengan Al-Qur’an
maksimal dan melahirkan hasil yang diharapkan, kita harus pula memahami metode
berinteraksi dengan Al-Qur’an. Berinteraksi dengan Al-Qur’an itu ada yang
terkait dengan teori dan ada yang terkait dengan praktek.
Adapun hal-hal yang terkait dengan teori
ialah :
1. Meyakini Al-Qur’an itu datang
dari Allah :
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ
الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ
مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا
تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ
تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا
بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ (آل
عمران : 7)
Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al
Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah
pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat . Adapun
orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti
sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah
untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya
melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami
beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan
kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan
orang-orang yang berakal. (QS. Ali Imran : 7)
2. Meyakini kebenaran isi Al-Qur’an
:
وَبِالْحَقِّ أَنْزَلْنَاهُ
وَبِالْحَقِّ نَزَلَ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا مُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (الإسراء :
105)
Dan Kami turunkan (Al Qur’an) itu
dengan sebenar-benarnya dan Al-Qur’an itu telah turun dengan (membawa)
kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita
gembira dan pemberi peringatan. (QS. Al-Isra’ : 105)
فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ
الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلا الضَّلالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ (يونس :
32)
Maka (Zat yang demikian) itulah
Allah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada sesudah kebenaran itu,
melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? (QS.
Yunus : 32)
3. Menerima Al-Qur’an dengan hati
terbuka dan suka cita :
كِتَابٌ أُنْزِلَ إِلَيْكَ فَلَا
يَكُنْ فِي صَدْرِكَ حَرَجٌ مِنْهُ لِتُنْذِرَ بِهِ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ
(الأعراف : 2)
Ini adalah sebuah kitab yang
diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya,
supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan
menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-A’raf : 2)
4. Memahami tujuan Al-Qur’an diturunkan Allah :
4. Memahami tujuan Al-Qur’an diturunkan Allah :
4.1. ٍSebagai Manhaj Hidup yang
terang dan jelas :
الر كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ
لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَى
صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (ابراهيم: 1)
Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab
yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita
kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan
Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS. Ibrahim : 1)
4.2. Sebagai Petunjuk Hidup yang
paling lurus dan kabar gembira :
إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي
لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ
الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا (الإسراء :9)
Sesungguhnya Al Qur’an ini
memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira
kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada
pahala yang besar, (QS. Al-Isra’ : 9)
4.3. Sebagai Obat dan Rahmat :
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا
هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا
خَسَارًا (الإسراء : 82)
Dan Kami turunkan dari Al Qur’an
suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al
Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS.
Al-Isra’ : 82)
4.4. Sebagai Peringatan bagi orang
yang takut pada Allah dan ancaman (neraka)-Nya :
فَذَكِّرْ بِالْقُرْآَنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ (ق :45)
فَذَكِّرْ بِالْقُرْآَنِ مَنْ يَخَافُ وَعِيدِ (ق :45)
Maka beri peringatanlah dengan
Al-Qur’an orang yang takut dengan ancaman-Ku. (QS. Qaf : 45)
مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ
لِتَشْقَى (2) إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى (3) (طه : 2-3)
Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini
kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang
takut (kepada Allah), (QS. Thaha : 2 – 3)
4.5. Sebagai Ruh (Spirit) dan Cahaya
kehidupan di dunia :
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ
رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ
وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ
لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (الشورى : 52)
Dan demikianlah Kami wahyukan
kepadamu Ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah
mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman
itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia
siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu
benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura : 52)
4.6. Sebagai Petunjuk hidup (Sumber
ajaran Islam):
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ
فِيهِ الْقُرْآَنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى
سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا
يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ
عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (البقرة : 185)
Bulan Ramadhan, bulan yang di
dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan
yang bathil).
Karena itu, barangsiapa di antara
kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia
berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya
itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan
hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,
supaya kamu bersyukur. (QS.Al-Baqarah : 185)
5. Memahami dan meyaksikan Mukjizat
Al-Qur’an :
5.1. Mukjizat kandungan dan isi Al-Qur’an :
5.1. Mukjizat kandungan dan isi Al-Qur’an :
َوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآَنَ
عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ
الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (الحشر : 21)
Kalau sekiranya Kami turunkan
Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah
belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu
Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir . (QS. Al -Hasyr : 21)
وَلَوْ أَنَّ قُرْآَنًا سُيِّرَتْ
بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الْأَرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى بَلْ
لِلَّهِ الْأَمْرُ جَمِيعًا أَفَلَمْ يَيْئَسِ الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ لَوْ
يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا
تُصِيبُهُمْ بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِنْ دَارِهِمْ
حَتَّى يَأْتِيَ وَعْدُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ (الرعد :
31)
Dan sekiranya ada suatu bacaan
(kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi
jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara,
(tentulah Al-Qur’an itulah dia). Sebenarnya segala urusan itu adalah kepunyaan
Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya
Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada
manusia semuanya. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana
disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat
kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak
menyalahi janji. (QS. Ar-Ra’d : 31)
5.2. Mukjizat Bahasa Al-Qur’an :
عن ابن عباس قال: دخل الوليد بن
المغيرة على أبي بكر بن أبي قحافة فسأله عن القرآن، فلما أخبره خرج على قريش فقال:
يا عجبا لما يقول ابن أبي كبشة. فوالله ما هو بشعر ولا بسحر ولا بهذْي من الجنون،
وإن قوله لمن كلام الله (ابن كثير في تفسير اية : 11- 25 من سورة المدثر)
Dari Ibnu Abbas ia berkata :
Al-Walid Ibnu Al-Mughirah datang kepada Abu Bakar Bin Abi Quhafah dan bertanya
tentang Al-Qur’an. Setelah Abu Bakar menjelaskannnya, Al-Walid langsung
mendatangi pemuka Quraisy sambil berkata : Alanglah mengagumka apa yang dibaca
oleh Abu Kabsyah (Abu Bakar) itu. Maka demi Allah, ia bukanlah syair, dan tidak
pula sihir serta bukan juga celotehan orang gila. Sesungguhnya apa yang
dibacakannya itu adalah Kalamullah (Firman Allah). (Tafsir Ibnu Katsir membahas
surat Al-Muddats-tsir ayat 11 sampai 25)
5.3. Mukjizat Scientific (ilmu
pengetahuan) :
سَنُرِيهِمْ آَيَاتِنَا فِي
الْآَفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (فصلت :53)
Kami akan memperlihatkan kepada
mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka
sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah
cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS.
Fush-shilat : 53)
5.4. Mukjizat Hukum dan
perundang-undangan :
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ
وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (المائدة : 50)
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka
kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi
orang-orang yang yakin ? (QS. Al-Maidah : 50)
5.5. Mukjizat pengobatan fisik dan psikis :
5.5. Mukjizat pengobatan fisik dan psikis :
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا
هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا
خَسَارًا (الإسراء :82)
Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an
suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan
Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.
(QS. Al-Isra’ : 82)
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ
كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ
رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ
هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ
هَادٍ (الزمر :23)
Allah telah menurunkan perkataan
yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi
berulang-ulang [1312], gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada
Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat
Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya
seorang pemimpinpun. (QS. Azzumar :23)
5.6. Mukjizat sejarah :
نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ
الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَذَا الْقُرْآَنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ
قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ (يوسف :3)
Kami menceritakan kepadamu kisah
yang paling baik dengan mewahyukan Al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya
kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum
mengetahui. (QS. Yusuf : 3)
5.7. Mukjizat analisa dan Futuristik
:
كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (3) ثُمَّ
كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ (4) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ (5)
لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7) ثُمَّ
لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ (8) (التكاثر)
Janganlah begitu, kelak kamu akan
mengetahui (akibat perbuatanmu itu), kemudian janganlah begitu, kelak kamu akan
mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang
yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya
kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan
ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia
itu). (QS. At-Takatsur : 3 – 8)
Kaum Muslimin rahimkumullah..
Al-Qur’an bukanlah untuk
disenandungkan saja dan tidak pula untuk dinikmati kandungan dan isinya oleh
akal dan kecerdasan intelektualitas saja. Akan tetapi wajib diyakini, dipahami
dan diamalkan semua kandungan dan isinya. Untuk itulah, mengamalkan Al-Qur’an
adalah kewajiban agar Al-Qur’an benar-benar menjadi hidayah, rahmah, syifa’ dan
tadzkirah bagi kita. Agar Al-Qur’an itu dapat diamalkan, maka kita harus
memposisikan Al-Qur’an sebagai berikut :
1. Menjadikan Al-Qur’an sebagai Buku
pelajaran utama (الْكِتَابُ) :
مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَنْ يُؤْتِيَهُ
اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا
عِبَادًا لِي مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَكِنْ كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنْتُمْ
تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُونَ (آل عمران :79)
Tidak wajar bagi seseorang manusia
yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata
kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan
penyembah Allah." Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi
orang-orang rabbani[208], karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan
disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (QS. Ali-Imran : 79)
2. Menjadikan Al-Qur’an sebagai
Bacaan paling utama dan paling mulia
(الْقُرْآَنُ الْكَرِيمُ / الْعَظِيمُ
):
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (فاطر : 29)
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ (فاطر : 29)
Sesungguhnya orang-orang yang selalu
membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki
yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan,
mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, (QS. Fathir : 29)
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ
الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
(العنكبزت : 45)
Bacalah apa yang telah diwahyukan
kepadamu, yaitu Al Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat
itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya
mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat
yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut : 45)
3. Menjadikan Al-Qur’an sebagai
referensi utama dalam pembentukan pemikiran, intelektualitas dan karakter
(تَدَبَّرُ الْقُرْآَنَ):
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا (النساء :82)
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا (النساء :82)
Maka apakah mereka tidak
memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah,
tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. Annisa’ :
82)
4. Menjadikan Al-Qur’an sebagai Ruh
(Spirit) hidup (الرُّوحُ) :
وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ
رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ
وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ
لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (الشورى : 52)
Dan demikianlah Kami wahyukan
kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah
mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman
itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia
siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu
benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura : 52)
5. Menjadikan Al-Qur’an sebagai
Cahaya kehidupan (النُّورُ) :
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي
زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ
مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا
يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ
لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ
بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (النور :35)
Allah (Pemberi) cahaya (kepada)
langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang
tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan)
kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan
dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak
di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya yang minyaknya
(saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas
cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia
kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Annur : 35)
6. Menjadikan Al-Qur’an sebagai
Petunjuk hidup (The Way of Life) (الْهُدَى) :
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ
هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (البقرة : 2)
Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada
keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah : 2)
7. Menjadikan Al-Qur’an sebagai
Peringatan (تَذْكِرَةً) :
مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآَنَ
لِتَشْقَى (2) إِلَّا تَذْكِرَةً لِمَنْ يَخْشَى (3)
Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini
kepadamu agar kamu menjadi susah; tetapi sebagai peringatan bagi orang yang
takut (kepada Allah) (QS. Thaha : 2 – 3)
8. Merasakan Mukjizat Al-Qur’an :
8.1. Mukjizat kandungan dan isi
Al-Qur’an
8.2. Mukjizat Bahasa Al-Qur’an
8.3. Mukjizat Scientific (ilmu pengetahuan) Al-Qur’an
8.4. Mukjizat Hukum dan perundang-undangan
8.5. Mukjizat pengobatan fisik dan psikis
8.6. Mukjizat sejarah
8.7. Mukjizat analisa dan Futuristik
8.2. Mukjizat Bahasa Al-Qur’an
8.3. Mukjizat Scientific (ilmu pengetahuan) Al-Qur’an
8.4. Mukjizat Hukum dan perundang-undangan
8.5. Mukjizat pengobatan fisik dan psikis
8.6. Mukjizat sejarah
8.7. Mukjizat analisa dan Futuristik
Kaum Muslimin rahimakumullah….
Demikianlah khutbah ini, semoga
Allah membantu dan menolong kita dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, agar kita
merasakan nikmatnya hidup di bawah naungan Al-Qur’an dan mejadikan Al Qur’an
sebagai dusturul hayah (sistem hidup).
Semoga Allah pilih kita menjadi
orang-orang yang sukses dalam mewujudkan generasi Islam, generasi masa depan
yang diharapkan. Semoga Allah berkenan menghimpunkan kita di syurga Firdaus
yang paling tinggi bersama Rasul Saw, para shiddiqin, syuhada’, dan shalihin
sebagaimana Allah himpunkan kita di tempat yang mulia ini. Allahumma amin…
9. بارك الله لي ولكم في القرآن
العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم أقول قولي هذا وأستغفر
الله لي ولكم إنه تعالى جواد كريم ملك رؤوف رحيم إنه هو السميع العليم ......
post tentang puasa dong!!!
BalasHapustunggu ja tanggal mainnya gan
Hapus