Tauhid vs Syirik
إن
الحمد لله وحده, نحمده و نستعينه و نستغفره ونتوب اليه
ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فهو المهتد ومن يضلله فلن
تجد له وليا مرشدا, أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده
ورسوله بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وتركنا على المحجة البيضاء ليلها
كنهارها لا يزيغ عنها الا هلك, اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن دعا بدعوته
الى يوم الدين. أما بعد, فيا عباد الله اوصيكم ونفسي الخاطئة المذنبة بتقوى الله وطاعته
لعلكم تفلحون. وقال الله تعالى في محكم التنزيل بعد أعوذ بالله من الشيطان
الرجيم :
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (ال عمران : 102)
Kaum muslimin rahimakumullah...
Pertama-tama, marilah kita
tingkatkan kualitas taqwa kita pada Allah dengan berupaya maksimal melaksanakan
apa saja perintah-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul saw.
Pada waktu yang sama kita dituntut pula untuk meninggalkan apa saja larangan
Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul Saw. Hanya dengan
cara itulah ketaqwaan kita mengalami peningkatan dan perbaikan....
Selanjutnya, shalawat dan salam mari
kita bacakan untuk nabi Muhammad Saw sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an
:
أعوذ
بالله من الشيطان الرجيم
إِنَّ
اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya
bershalawat atas Nabi (Muhammad Saw). Wahai orang-orang beriman, ucapkan
shalawat dan salam atas Nabi (Muhammad) Saw.
(QS. Al-Ahzab [33] : 56)
Kaum Muslimin rahimakumullah...
Terlepas dari manapun asal-usulnya,
maka setiap pergantian tahun Masehi tiba, umat Islam yang konsisten terhadap
agamanya menghadapi berbagai hal yang dilematis di negerinya sendiri. Mereka seakan
digiring melakukan berbagai kegiatan yang biasa dilakukan oleh kaum Kristiani.
Lebih dari itu, bisa saja mereka dituduh tidak toleransi jika mereka menolak
dan mengkritisi berbagai kegiatan yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran
Tauhid yang mereka yakini seperti, mengucapkan selamat natal, menyalakan lilin,
melakukan pesta dan perayaan pergantian tahun baru Masehi sambil menyalakan
kembang api, begadang semalam suntuk di jalanan, di tempat-tempat hiburan, di
lapangan, di tepi pantai menunggu saat pergantian tahun baru Masehi dan tak
jarang pula dilakukan sambil pesta seks dan mabuk-mabukan.
Para ulama dan berbagai ormas Islam
lumpuh dan tidak berdaya menghadapi serangan badai budaya dan kegiatan agama
lain terhadap umat Islam yang sudah berjalan puluhan tahun. Sepuluh tahun
terakhir, khususnya sejak reformasi, serangan tersebut semakin menggila dan
seakan tidak terbendung lagi. Faktanya, puluhan ribu manusia yang berkumpul di
berbagai tempat pesta malam tahun baru Masehi adalah sebagian besarnya umat
Islam. Puluhan ribu yang memadati jalan-jalan raya, sebagian besar mereka
adalah kaum Muslimin. Puluhan ribu yang meniup terompet dan memyalakan kembang
api di malam tahun baru Masehi, mayoritasnya adalah kaum Muslimin. Puluhan ribu
manusia yang berjubel di berbagai tempat, pantai, puncak gunung dan lapangan
sambil bersorak sorai saat malam pergantian tahun baru Masehi tiba adalah
mayoritasnya umat Islam.
Tahun demi tahun, intensitas merayakan tahun baru
Masehi dan keterlibatan umat Islam di negeri yang mayoritas Muslim ini semakin
tinggi dan semakin bebas. Ajaran Islam sudah tidak lagi dilibatkan dalam
menilai dan menimbang aktivitas yang mereka lakukan.
Lebih ironis lagi, sebagian ulama
atau tokoh Islam memberikan green light dan pembenaran terhadap fenomena yang
bertentangan dengan Islam tersebut. Demikian juga Pemerintah seakan menyerukan
agar semua bangsa yang ada di negeri ini, apapun agama mereka, khususnya kaum
Muslimin, harus merespon positif terhadap apa yang sudah menjadi budaya dan
tradisi umat Kristiani itu. Umat Islam dicekoki dengan berbagai doktrin dan
pemahaman sesat agar mereka menerima dan menyambut gembira apa yang dilakukan
umat lain, kendati nyata-nyata bertentangan dengan ajaran dasar agama mereka.
Di antara doktrin sesat tersebut ialah : agama itu sama, toleransi beragama,
boleh mengucapkan selamat tahun baru dan sebagainya. Kalau tidak setuju dan
mendukung, bisa dituduh dengan berbagai tuduhan dan berbagai label negatif
seperti fundamentalis, ektrimis, fanatik, tidak toleran dan bahkan bisa juga
sebagai
teroris.
Kaum Muslimin Rahimakumullah...
Allah menurunkan Islam sebagai agama
Tauhid. Tauhid ialah, megesakan Allah dalam ketuhanan Rububiyyah (penciptaan
dan perbuatan), Uluhiyyah (ibadah dan sistem hidup) dan dalam Al-Sama’ wa Ash-shifat
(nama-nama dan sifat). Sebab itu, pengertian kalimat Tauhid/Syahadat : لا اله الا الله adalah : Tidak ada tuhan apapun di
dunia yang berhak disembah, ditaati, dikagumi, dibesarkan dan dicintai selain
Allah. Hanya Allah sajalah yang berhak disembah dan di taati. Karena Dialah
yang meciptakan manusia dan alam semesta ini. Sebab itu, semua sistem hidup
yang Dia ciptakan untuk manusia terjamin kecanggihan dan kebaikannya untuk
manusia di dunia dan juga di akhirat.
Adapun Syirik ialah, meyakini ada
tuhan lain yang berhak disembah, ditaati, dikagumi, dicintai dan dibesarkan
selain Allah. Apapun jenis dan bentuknya, apakah tuhan tersebut patung yang
diukir, nabi, orang shaleh, makhluk halus dan sebagainya. Bila ada keyakian
dalam diri seseorang bahwa ada tuhan lain selain Allah, baik disembah langsug
ataupun tidak langsung seperti hanya untuk wasilah (perantara), maka keyakinan
tersebut disebut “SYIRIK”. Artinya penyertaan tuhan lain dengan tuhan Allah.
Keyakinan seperti itu sudah tidak Tauhid lagi dan sudah tercampur dengan syirik
atau kemusyrikan.
Sebab itu, Tauhid itu adalah lawan
atau versus Syirik. Tauhid yang diajarkan Islam yang dibawa nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wa sallam sama dengan Tauhid yang diajarkan Ibrahim ‘alaihissalam.
Tauhid yang terbebas dari syirik atau menyekutukan Allah dengan apapun dan
dengan siapapun. Tauhid yang mengajarkan penganutnya agar mengesakan Allah
dalam keyakinan, dalam ibadah, dalam sistem kehidupan, dalam budaya, dalam
mu’amalah dan dalam akhlak.
Seperti itulah ajaran Tauhid yang
datang dari Allah. Di luar itu, berarti datang dari manusia. Tauhid yang datang
dari Allah adalah yang logis dan dapat diterima akal sehat. Sedangkan yang
datang dari manusia adalah yang sulit dipahami akal sehat kecuali dengan
mematikan daya nalar itu sendiri.
Keajaiban penciptaan Isa yang tanpa
bapak itu tidak logis menjadi sebab ia berhak dipertuhankan. Jika demikian
logikanya, kenapa tidak nabi Adam yang lebih berhak dijadikan tuhan pendamping
Allah? Bukankah Adam lahir tanpa bapak dan ibu? Allah berfirman :
إِنَّ
مَثَلَ عِيسَى عِنْدَ اللَّهِ كَمَثَلِ آَدَمَ خَلَقَهُ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ
لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Sesungguhnya perumpamaan
(penciptaan) Isa itu di sisi Allah sama dengan perumpamaan (penciptaan ) Adam.
Dia menciptakannya dari tanah, kemudia Dia berkata : Jadilah. Maka jadilah ia
(Adam). (QS. Ali Imran [3] : 59)
Sebab itu, tidak ada yang istimewa
dan yang sangat menakjubkan dari penciptaan Isa itu di sisi Allah. Pencinptaan
Isa di sisi Allah sama saja dengan penciptaan Adam. Sebab itu, tidaklah pantas
dan tidak logis apabila Isa dinobatkan atau diakui sebagai Tuhan yang
disekutukan dengan Allah. Apalagi disebut sebagai anak Allah. Keyakinan dan
ungkapan kemusyrikan tersebut amatlah membuat Allah menjadi murka.
Akibat keyakinan dan ucapan
kemusyrikan itu, bukan saja Allah yang marah dan murka, akan tetapi, langit,
bumi dan gunungpun ikut memprotes dan marah disebabkan ulah manusia yang
menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya dan tidak ada kemungkaran yang melebihi
dari menuduh Allah memiliki anak. Allah berfirman :
وَقَالُوا
اتَّخَذَ الرَّحْمَنُ وَلَدًا (88) لَقَدْ
جِئْتُمْ شَيْئًا إِدًّا (89) تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ
الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي
لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92)
إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا
آَتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا (93)
لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا (94) وَكُلُّهُمْ
آَتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا (95)
Dan mereka berkata: "Tuhan Yang
Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak (88) Sesungguhnya kamu telah
mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, (89) hampir-hampir langit
pecah karena ucapan itu, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh, (90)
karena mereka menyebut Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak (91) Dan tidak
layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. (92) Tidak ada
seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha
Pemurah selaku seorang hamba. (93) Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah
mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti. (94) Dan tiap-tiap
mereka akan datang kepada Allah
pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri. (95) (QS. Maryam [19] : 88–85)
Kaum Muslimin rahimakumullah....
Maka Tauhid yang datang dari
Allahlah yang akan mendapatkan kecintaan dan keridhaan-Nya. Sedangkan keyakinan
apapun yang datang dari hasil rekaan manusia tidak mendapatkan kecintaan dan
keridhaan Allah, karena berlawanan dengan keinginan dan kehendak-Nya.
Sebagai Nabi dan Rasul terakhir,
Allah menjelaskan kepada Muhammad shallallhau ‘alaihi wasalam penyimpangan
akidah dan keyakinan Ahlul Kitab dan sumber penyimpangan itu, seperti yang
difirmankan-Nya :
وَقَالَتِ
الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ
اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ
كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ (30) اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ
دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا
إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (31)
Orang-orang Yahudi berkata:
"Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al
Masih itu putera Allah." Demikian itu ucapan mereka dengan mulut mereka,
mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Allah melaknat mereka
, bagaimana mereka sampai berpaling (dari Tauhid)? (30) Mereka juga menjadikan
orang-orang alim (ulama) dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan
(juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya
disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain
Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (31) (QS. At-Taubah [9] : 30–31)
Sebagai Rasul terakhir, Allah
memerintahkan Muhammad shallahu ‘alaihi wasallam untuk mengajak manusia,
termasuk Ahlul Kitab, Yahudi dan Nasrani untuk mengoreksi dan meluruskan
pemahaman akidah dan keyakinan mereka yang sudah menyimpang dari Tauhid yang
dibawa oleh para nabi Mereka sendiri.
Allah mengajarkan kepada Nabi
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar Tauhid yag datang dari Allah
dan yang dibawa oleh para nabi dan Rasul-Nya, khususnya Ibrahim, harus
diperkenalkan kepada semua umat manusia, khususnya kaum Ahlul Kitab, yakni
Yahudi dan Nasrani agar mereka selamat dan terhindar dari prilaku menyekutukan
Allah dengan manusia yang bernama Uzair dan Isa ‘alaihimassalam. Mereka
itu tak lebih dari hamba yang Allah cintai dan sebagai Nabi yang mengajarkan
Tauhid kepada manusia.
Sebab itu, sebagai umat Nabi
Muhammad, kitalah yang berhak memperkenalkan dan menawarkan Tauhid yang benar
itu kepada Ahlul Kitab itu, Yahudi dan Nasrani. Namun yang terjadi di negeri
ini justru sebaliknya; merekalah yang giat mengenalkan kemusyrikan, ibadah,
budaya, akhlak dan muamalah yang menyimpang itu kepada kita. Kalau kondisi
seperti ini terus berlanjut, maka tunggulah kemarahan dan kemurkaan Allah turun
pada kita sebagaimana dulu pernah turun kepada mereka. Allah berfirman :
قُلْ
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ
أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ
بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا
اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ (64) يَا أَهْلَ
الْكِتَابِ لِمَ تُحَاجُّونَ فِي إِبْرَاهِيمَ وَمَا أُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ
وَالْإِنْجِيلُ إِلَّا مِنْ بَعْدِهِ أَفَلَا تَعْقِلُونَ (65) هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ
فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (66) مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا
وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ
الْمُشْرِكِينَ (67) إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ
وَهَذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ (68) وَدَّتْ
طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يُضِلُّونَكُمْ وَمَا يُضِلُّونَ إِلَّا
أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ (69)
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَكْفُرُونَ بِآَيَاتِ
اللَّهِ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ
(70) يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ
بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (71) وَقَالَتْ
طَائِفَةٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آَمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ
آَمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آَخِرَهُ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (72) وَلَا
تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ الْهُدَى هُدَى اللَّهِ
أَنْ يُؤْتَى أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ
قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ
عَلِيمٌ (73) يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (74) وَمِنْ أَهْلِ
الْكِتَابِ مَنْ إِنْ تَأْمَنْهُ بِقِنْطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ
إِنْ تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ
قَائِمًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ
وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ (75) بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ
وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ (76) إِنَّ الَّذِينَ يَشْتَرُونَ
بِعَهْدِ اللَّهِ وَأَيْمَانِهِمْ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَئِكَ لَا خَلَاقَ لَهُمْ
فِي الْآَخِرَةِ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (77)
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab,
marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada
perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kecuali Allah
saja dan kita tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula)
sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah."
Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa
kami adalah orang-orang Muslim (berserah diri hanya kepada Allah) (64) Hai Ahli
Kitab, mengapa kamu bantah membantah tentang Ibrahim, padahal Taurat dan Injil
tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? (65)
Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu
ketahui maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui?
Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (66) Ibrahim bukan seorang
Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang
lurus (akidahnya) lagi seorang Muslim dan sekali-kali bukanlah dia termasuk
golongan orang-orang musyrik. (67) Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada
Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta
orang-orang yang beriman (kepada Muhammad/umat Muhammad), dan Allah adalah
Pelindung semua orang-orang yang beriman. (68) Segolongan dari Ahli Kitab ingin
menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan melainkan
dirinya sendiri, dan mereka tidak menyadarinya. (69) Hai Ahli Kitab, mengapa
kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)? (70)
Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan
menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya? (71) Segolongan (lain)
dari Ahli Kitab berkata (kepada sesamanya): "Perlihatkanlah (seolah-olah)
kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman
(sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya,
supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). (72) Dan
janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah:
"Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan
(janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang
diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan
mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu." Katakanlah: "Sesungguhnya
karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang
dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui";
(73) Allah menentukan rahmat-Nya (kenabian) kepada siapa yang dikehendaki-Nya
dan Allah mempunyai karunia yang besar (74) Di antara Ahli kitab ada orang yang
jika kamu mempercayakan kepadanya harta yang banyak, dikembalikannya kepadamu;
dan di antara mereka ada orang yang jika kamu mempercayakan kepadanya satu
dinar, tidak dikembalikannya kepadamu kecuali jika kamu selalu menagihnya. Yang
demikian itu lantaran mereka mengatakan: "tidak ada dosa bagi kami
terhadap orang-orang ummi (bodoh). Mereka berkata dusta terhadap Allah, padahal
mereka mengetahui. (75) (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji
(yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang
yang bertakwa. (76) Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan)
Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak
mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan
mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula)
akan
mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih. (77) (QS. Ali Imran [3] : 64–77)
Kaum Muslimin rahimakumullah....
Demikianlah khutbah ini, semoga
Allah memelihara iman kita dan umat kita dari serangan kemusyrikan, ibadah,
akhlak dan budaya menyimpang yang sedang melanda negeri ini. Semoga Allah
anugerahkan kesempatan kembali kepada Tauhid dan keimanan bagi saudara kita
yang terlanjur terbawa arus kemusyrikan dan berbagai bentuk penyimpangan.
Dialah tempat kita meminta dan Dia jua tempat kita memohon perlindungan. Semoga
Allah berkenan menghimpunkan kita di syurga Al-Firdaus Al-A’la yang paling tinggi
bersama Rasul Saw, para shiddiqin, syuhada’, dan shalihin sebagaimana Allah
himpunkan kita di tempat yang mulia ini. Allahumma amin...
بارك
الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم إنه تعالى جواد كريم ملك رؤوف رحيم إنه هو
السميع العليم ......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar